27

fly agaric, mushrooms, wild mushrooms-516281.jpg

Hari ini, 26 Februari 2024, ada rasa pedih sekaligus nyaman. Sesak sekaligus lega. Bingung sekaligus tercerahkan. Marah sekaligus damai. Aku terbangun pada pemahaman bahwa, perjalananku masih panjang. Aku baru memulai beberapa langkah. Bahkan saat niat terbentuk untuk menapak di perjalanan ini, aku sudah tidak mungkin bisa kembali lagi. Tidak ada pilihan selain terus maju. Hanya pada Allah aku berserah, bahkan aku tidak sanggup mengangkat sebelah kakiku. Hanya Dia yang bisa menggerakkannya. Mengarahkannya. Menuntunnya.

Aku masih terseok-seok karena kemelekatan begitu erat dengan semua program, identitas, trauma, kepercayaan, dan lainnya. Meski semuanya sudah disadari, ternyata saat tau diri beda sendiri di saat sekelilingku masih memegang narasi usang, masih ada rasa ingin diterima, membuatku masih berat berada di antara melepaskan dengan takut akan kesendirian. Ilusi tentang keterpisahan begitu sulit ditembus. Sulit melihat bahwa sebenarnya aku tidak pernah sendiri di tengah ilusi yang seakan membuat semua terlihat terpecah-belah.

Benar kata orang-orang yang sudah mengalami dan mendapat kebijaksanaan dan sudah sangat ringan dirinya. Bahwa akan sangat sulit terangkat dan berhijrah ketika satu kaki sudah mulai menginjak di kenyataan sebenarnya, sedangkan kaki lain masih melekat dalam ilusi. Ilusi bahwa aku masih perlu berada di realitas artifisial karena sebagian besar orang yang aku sayangi, yang sudah lama kukenal, masih ada di sana. Ilusi bahwa aku masih perlu di terima di sana, yang membuatku masih melekat. Ilusi yang membuatku meredupkan sinar di depan sebagian orang dan berani menjadi silau di depan sebagian lainnya. Ilusi yang membuatku takut menjadi diriku sendiri.

Ketakutan ini begitu nyata ketika berkaitan dengan orang-orang terdekat. Egoku ingin kehidupan yang “nyaman” tanpa banyak pertanyaan yang perlu dijelaskan. Memang, tidak semua pertanyaan perlu dijawab. Pun tidak semua hal yang orang lain tidak mengerti perlu kujelaskan. Namun ego memberontak karena dia tetap ingin diterima. Dia belum mendapat rasa amannya menghadapi versi diri sejati. Maka di situlah letak perjalanan. Pelan-pelan mengajak ego untuk berkenalan kembali dengan diri sejati dengan ekspresinya yang murni, sebagaimana Allah kehendaki ketika aku, kita diciptakan. Mengenalkannya dengan rasa aman yang riil, bukan berlandaskan takut. Rasa aman yang berasal dari Sang Maha Melindungi.

Ekspektasi. Ini juga menjadi sesuatu yang memberatkan. Ekspektasi bahwa diri harus mampu berhasil sempurna di percobaan pertama, ke-dua, ke-tiga, ke-sepuluh, ke-seratus, ke-seribu. Ekspektasi membuat diri jatuh ke dasar neraka perasaan hina dan malu. Bayangkan betapa sulitnya bangkit dari dasar neraka.

Maka pada akhirnya, ketika rasa tidak mampu hadir begitu tajam menghujam, ingatlah Allah. Pegang erat-erat tali-Nya. Pegang erat dengan pasrah. Hanya jiwa yang mengerti paradoks ini. Pasrah untuk merasakan kehancuran yang tujuan akhirnya aku tau. Aku ingat meski masih sekeping-sekeping. Semuanya sempurna. Tidak ada cela, meski aku masih melihat semuanya dengan kacamata retak yang masih aku pulihkan kejernihannya, sejatinya aku tau.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *