Kebingungan tentang Dunia

galaxy, big bang, explosion-11188.jpg

Pernahkah kamu menyadari betapa bingungnya kamu dengan dunia ini? Tentang mengapa hidup penuh dengan kesulitan. Tentang mengapa ada yang terlahir dengan keadaan berkelimpahan tapi ada yang serba kekurangan. Tentang mengapa lingkungan sekitar selalu membuat tidak nyaman. Tentang mengapa belajar begitu sulit sampai menjadi momok. Tentang mengapa bisa anak pemuka agama bertingkah iblis. Tentang mengapa tidak pernah dikaruniai pemimpin yang amanah. Dan seterusnya. Mungkin semua ini begitu menghipnotis sehingga diamini saja, kehidupan memang begini. Sampai pertanyaan mengapa pun tidak pernah mampir. Atau kalaupun mampir, ditimpa dengan meyakin-yakinkan diri bahwa semuanya adalah ketetapan Allah.

Ini ada benar dan ada tidaknya. Benar bahwa sesuatu terjadi tentu karena Allah mengijinkan terjadi, dan tidak bahwa Allah menghendaki hal buruk pada makhluk-Nya. Tentang kebijaksanaan di baliknya mengapa harus terjadi adalah sesuatu yang sebenarnya bisa kita pahami, jika kita bisa terhubung dengan Allah melalui hati kita.

Pernahkah kita merasakan keberadaan Allah? Atau Allah hanyalah Tuhan yang kita tau Dia ada berdasarkan pengetahuan, tapi tidak pernah kita rasakan keberadaan-Nya, apalagi kebijaksanaan yang diajarkan-Nya? Jika kita tidak pernah terhubung dengan diri sendiri, maka tidak heran Allah hanyalah Tuhan yang kita ketahui lewat dogma. Sayang sekali jika iman hanya ada di level pengetahuan. Kalau kita nyatakan kita beriman tapi kita masih merasakan kebingungan seperti di paragraf pertama tulisan ini, yang tidak diakui, atau kalaupun diakui dengan rasa frustrasi, kecewa, dan putus asa, maka sebenarnya kita bukan beriman, melainkan hanya tau dan hapal lewat pengetahuan tentang apakah iman itu.

Kita sudah didoktrin bahwa semua hal hanya bisa dimengerti lewat pikiran, padahal pikiran adalah kesadaran paling randah. Dengan kepercayaan ini, kecerdasan kita yang sejati-yang letaknya bukan di pikiran melainkan dalam hati yang merupakan portal komunikasi Allah dengan hamba-Nya-terselubung dinding tebal. Dengan hanya percaya hanya pada apa yang tersaji lewat data, fakta, bukti nyata yang bisa dilihat mata, sebenarnya kita tidak bisa mengerti apapun yang terjadi di dunia ini. Bahkan kita boro-boro terhubung dengan Allah, memisahkan mana pikiran, emosi, dan suara hati saja sangat sulit bahkan tidak bisa. Kita begitu jauh dari fitrah seorang hamba yang sejatinya terhubung satu sama lain dengan berbagai bentuk yang tidak satupun sama. Bhineka tunggal ika hanya menjadi sebuah slogan yang dihapal, tidak masuk akal, dan sekedar menjadi slogan. Sayang sekali.

Hal yang bisa dicerna akal pikiran di dunia ini hanyalah seujung kuku, tapi bukan berarti kita tidak bisa mengerti. Akal kita terbatas, tapi hati tidak. Kecerdasan hati tidak terbatas selama terhubung dengan Sang Maha, Sumber dari segalanya. Kita akan mampu mencerna hal-hal di luar nalar dengan terhubung dengan Allah melalui hati kita. Dengan kesadaran ini, semestinya apapun yang terjadi di hidup kita bisa kita lihat dari kacamata batin yang jernih. Kadang positive thinking a.k.a husnudzan juga sering dipelintir pemahamannya menjadi ignorance a.k.a abai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Positive thinking adalah saat kita tau maksud dari semua yang kita alami adalah untuk kebaikan kita DAN kita menjalankan apa yang perlu dilakukan saat itu. Misalnya, saat kita dikelilingi oleh lingkungan yang sering mengabaikan kita, positive thinking-nya adalah ini semua terjadi karena harus terjadi, karena ada hal di diri kita yang menarik hal ini terjadi, apa kebijaksanaan yang perlu diambil, dan bagaimana cara mengatasinya. Positive thinking di sini bukan berpikir “oh ini semua takdir Allah” lalu bersedih hati dan bertahan di keadaan itu tanpa mengambil makna apapun yang bisa menjadi dasar untuk melakukan perubahan. Karena sejatinya Allah tidak menghendaki kesulitan pada kita. Allah hanya menghendaki kebaikan, maka tugas kita juga lakukan kebaikan sesuai dengan porsi dan warna masing-masing.

Jadi bagaimana caranya agar kita tidak bingung lagi?

  1. Sadari kalau ada hal yang tidak kita mengerti.

Saat ada hal yang tidak kamu mengerti, jangan langsung ditimpa dengan pengabaian, seakan semua yang kamu tidak mengerti memang tidak perlu dimengerti dan perlu ditelan saja. Pertanyaan hinggap di hatimu karena memang itu perlu kamu pahami, dan Allah akan memahamkanmu, insyaAllah.

  1. Tanyakan pada Allah melalui hatimu tentang hal yang kamu tidak mengerti.

Pahami bahwa apapun yang kamu alami di masa lalu, saat ini, dan masa depan intinya adalah karena sesuatu yang pernah kamu alami atau lakukan sebelumnya, yang butuh kebijaksanaan.

  1. Pasrahkan dan percaya bahwa Allah akan memahamkanmu di saat yang tepat.

Sabar dan yakinkan hati bahwa di saat yang tepat yang Allah kehendaki, kamu pasti memahaminya di level jiwa, meski pikiranmu tidak mampu mencernanya. Ijinkan dirimu untuk menerima pemahamannya.

  1. Ijinkan diri digerakkan oleh Allah, agar kebijaksanaan yang kamu dapatkan memanifestasi pada aksi nyata.

Jangan dilawan dengan rasa malas, abai, atau penyangkalan

Langkah 2-4 bisa dialami melalui meditasi. Mau ditampik sebanyak dan sekeras apapun, meditasi adalah jalan untuk terhubung dengan diri dan Allah. Meditasi bisa membuatmu bisa memisahkan mana suara pikiran, emosi, dan jiwamu, sehingga kebijaksanaan dari Sang Sumber bisa masuk ke dalam dirimu. Jadikan apapun hal yang kamu lakukan ada dalam keadaan meditatif, sehingga setiap langkah, sentuhan, pemikiran, interaksi, dan kerjamu menyertakan Allah di dalamnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *