Paradoks Rasa Aman Berpenghasilan Tetap

brick wall, room, interior design-1850095.jpg

Kalau dilihat-lihat, sampai sekarang masih sangat banyak orang yang ingin menjadi PNS (sekarang sebutannya sih udah ASN tapi aku masi kagok euy, PNS aja lah ya). Meski katanya gajinya relatif kecil dibandingkan kalo kerja di swasta (meski ada kementrian yang gajinya wow), PNS masi jadi profesi favorit. Alasannya macam-macam, tapi yang paling umum sepanjang penglihatan dan pendengaranku adalah: ingin membanggakan orang tua dan merasa penghasilannya pasti/terjamin bahkan sampai setelah meninggal. Aku hari ini terpikirkan pingin bahas soal kepastian jumlah penghasilan yang diharapkan orang-orang yang mengejar PNS ini.

Sebenarnya yang pingin dikejar kebanyakan orang yang ingin jadi PNS adalah rasa aman. Karena emang pada dasarnya manusia perlu merasa aman agar gak cuma bisa sekedar melanjutkan hidup, tapi juga berdaya di dunia. Sayangnya, rasa aman yang dikejar dalam hal finansial dari PNS ini menjebloskan para PNS ke lubang rasa tidak aman yang lain. Dengan kepastian penghasilan yang udah diperkirakan, bahkan bisa dihitung berapa banyak yang bisa dihasilkan sejak terima SK CPNS sampai nanti pensiun, PNS mulai merasa kekurangan, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama tempat tinggal dan biaya pendidikan anak. Mulai muncul rasa tidak aman lapis selanjutnya. Akhirnya, dengan hitung-hitungan itu, sebagian besar PNS merasa gak mungkin bisa punya rumah tinggal kalau tidak berhutang, karena matriks udah mendesain bahwa tempat tinggal dan pendidikan “layak” (read: layak dengan definisi matriks) semakin lama semakin mahal dan tidak terjangkau manusia yang berpenghasilan rendah-menengah. Hutang adalah satu-satunya jalan untuk punya rumah tinggal bahkan pendidikan anak, dan kepercayaan ini mengakar kuat, tebal, dalam sampe  batang otak dan sel-sel terkecil. Nyaris gak ada satupun PNS sepanjang penglihatanku yang percaya kalau hak dasar manusia untuk punya rumah tinggal bisa didapat tanpa berhutang. Lagi, rasa aman menjerumuskan PNS ke rasa tidak aman selanjutnya yang mencari cara aman yang sebenarnya sama sekali tidak aman: berhutang.

Lalu sebenarnya dimana rasa aman yang dikejar dari PNS ini? Hanya dengan menerima penghasilan tetap tiap bulan ternyata gak menjamin keamanan karena setelah dihitung ternyata kurang. PNS sebagian besar belasan bahkan puluhan tahun diselimuti hutang karena tidak percaya sumber rejeki luas. Penghasilan tetap yang diidamkan ternyata hanya membentuk programming bahwa rejeki yang akan PNS dapat hanya sejumlah gaji yang dia terima tiap buan, dan PNS berpegang kuat dengan “bare minimum” itu. Sekecil apapun si penghasilan tetap tadi tetap dipertahankan karena takut jadi tidak punya apa-apa. PNS sulit percaya rejeki itu luas, dan gaji tiap bulan hanyalah sebagian kecil dari rejeki yang mungkin didapat, tapi label “penghasilan tetap” ternyata hanya jadi block untuk kesejahteraan hadir di hidupnya. Penghasilan tetap hanya jadi block, yang membuat diri tidak mengijinkan keberlimpahan dari Allah mengalir deras dalam kehidupannya. Block itu adalah ilusi yang gak disadari, dan diamini sebagai ketentuan yang gak bisa diubah.

Sejauh apa ilusi ini “dibuat” untuk menyelubungi kita? Gak tau. Tapi bisa kita telusur seaneh apa logika yang kita amini yang sebenarnya gak masuk akal buatku. Gaji PNS kecil, terutama untuk PNS daerah. Sebagian besar waktu dihabiskan di tempat kerja, meski di saat kerjaan gak terlalu banyak bahkan gak ada, wajib ke tempat kerja. Gak punya ruang dan waktu untuk bereksplorasi hal lain di luar yang disuruh atau kalaupun menginisiasi sendiri hanya terkait pekerjaan kantor. Kecuali orang-orang yang lumayan ngotot bisa nyuri-nyuri waktu nyari sampingan atau ngerjain hobi, meski capek. Tapi tetap aja hal-hal itu diabaikan karena si “penghasilan tetap” tadi. Rasa aman yang gak riil, karena justru menjerumuskan kita ke lubang rasa tidak aman yang lebih dalam. Sampe gak percaya rejeki datang dari mana aja bukan cuma dari gaji. Sampe gak percaya rejeki pasti cukup selama kita gak maksain harus dapat kapan. Gak percaya rejeki pasti cukup, sampe mesti ngutang untuk memenuhi kebutuhan dasar. “Kerja ya kerja aja, ini juga rejeki” katanya. Tapi saat nilai “kerja” dan “rejeki” hanya dimaknai sedangkal keluar rumah pake baju kerja untuk dapat uang, aku merasa kemanusiaan lenyap dari dalam diri, karena sejatinya manusia diciptakan untuk bersenang-senang lewat kerja yang bisa dilakukannya sesuai dengan kemampuan yang udah diinstal Allah yang selaras dengan panggilan hatinya. Bukan sekedar untuk cari uang.

Di sini bukan PNS nya yang jelek, tapi betapa tebal ilusi menyelubungi kita sampe kita selalu dalam survival mode, sampe kita gak bisa betul-betul make akal sehat. Betapa tebal ilusi, sampe saat ada yang mengambil keputusan berbeda dari kebanyakan PNS dipandang gila.

Sejatinya, kerja adalah kebutuhan dasar manusia juga, karena kerja adalah misi jiwa, bukan untuk cari uang aja. Kalau panggilanmu adalah PNS karena di sana panggilan jiwamu, karena di sana ada peran yang perlu kamu jalani yang membuatmu terangkat ke derajat lebih tinggi di sisi Allah dan hatimu tau itu, maka itulah kerjamu. Tapi kalau pingin jadi PNS alasannya secetek pingin berpenghasilan tetap, apapun kerjaannya terima dan jalani aja, girl, you will be messed up. Just like me hahaha. Karena dulu alasanku mau jadi PNS sebenarnya bukan PNS nya, tapi secetek cuma di situ satu-satunya peluang kerjaku di Indonesia yang bisa aku lamar yang aku insyaAllah bisa keterima. Aku bahkan gak peduli apa jobdesc nya, bahkan aku gak tau bidang apa yang kumasuki, pokoknya lolos aja dulu, formasinya ada kok. Yang kukejar waktu itu adalah rasa aman yang pertama yang disebut diawal: ingin membanggakan orang tua sehingga aman dari tanya-tanyaan warga pada orang yang baru lulus kuliah: “udah tamat kerja di mana?” Alasan yang tidak esensial: sedang tidak merasa aman lalu mengejar rasa aman yang hanya menjerumuskan ke rasa tidak aman lainnya.

Semoga tulisan ini bisa jadi bahan renungan kita sama-sama, untuk mengalibrasi ulang niat dan tujuan untuk apa kita melakukan semua ini. Karena betul adanya segala sesuatu tergantung niatnya. Niat ini fungsinya juga sebagai filter apa yang kita ijinkan masuk ke kehidupan kita. Pastikan niatnya lurus, agar yang masuk ke kehidupan kita adalah segala hal yang datangnya dari Allah satu-satunya sumber kehidupan, dan selaras dengan energi-Nya yang organik, bukan dari false beliefs, trauma, conditioning, programming, karma, dll.

Selamat bekerja 😉

2 thoughts on “Paradoks Rasa Aman Berpenghasilan Tetap”

  1. Hai Mba, salam kenal dari seorang PNS yang sedang berusaha menyelami apa panggilan jiwanya😁 dulu mungkin memang mencari aman. Bbrp tahun belakangan sempat merasa, kayanya ga “cocok” karena kadang sering berbeda pandangan dengan kebanyakan orang. Ingin resign tapi merasa “punya peran” di lingkungan sekarang yang bisa membuatnya lebih baik walaupun mungkin perannya kecil

    1. Hi mba Lulu, salam kenaal.
      I hear you mba. Memang keputusan apapun yang kita ambil, jalan apapun yang kita tempuh, pasti ada aja tantangan serupa kayak merasa gak cocok, beda sendiri, dll. Tapi masing-masing kita pasti sejatinya tau dari dalam hati struggle yang kita jalani ini apakah membuat jiwa kita tenang dan bahagia atau tersiksa. Siapa tau peranan yang mba Lulu jalankan di kerjaan saat ini memang panggilan jiwamu. Boleh dikontemplasi mba rasa gak cocok nya ini apakah dari dalam diri menolak menjalankan, atau karena dirimu udah menjalani dengan optimal dengan peranmu tapi merasa aneh sendiri. Karena emang sejatinya setiap makhluk punya warnanya sendiri 🙂 semangat mbaa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *